Inflasi Sulawesi Selatan Februari 2026 Capai 6,13 Persen, Dipicu Kenaikan Harga Perumahan dan Makanan

Celebestimes.id, Makassar – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan mencatat inflasi year on year (y-on-y) pada Februari 2026 sebesar 6,13 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 110,93.

Pemantauan dilakukan di delapan kabupaten/kota, yakni Bulukumba, Watampone, Wajo, Rappang, Luwu Timur, Makassar, Parepare, dan Palopo. Dari seluruh daerah tersebut, inflasi tertinggi tercatat di Kabupaten Sidenreng Rappang, sementara inflasi terendah terjadi di Kota Palopo.

Read More

“Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Sidenreng Rappang sebesar 7,54 persen dengan IHK 109,37, sedangkan inflasi terendah di Kota Palopo sebesar 5,14 persen dengan IHK 109,55,” jelas BPS Sulsel dalam rilis resminya.

BPS mencatat, inflasi tahunan Februari 2026 dipicu oleh kenaikan indeks pada sebagian besar kelompok pengeluaran. Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi sebesar 18,57 persen, disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang meningkat 18,6 persen.

Kenaikan harga juga terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 6,48 persen, kesehatansebesar 1,94 persen, transportasi sebesar 0,42 persen, rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,81 persen, pendidikan sebesar 1,04 persen, serta penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 2,18 persen.

Sementara itu, beberapa kelompok mengalami deflasi, yakni pakaian dan alas kaki sebesar 0,58 persen, perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,31 persen, serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,23 persen.

Sejumlah komoditas memberikan andil terbesar terhadap inflasi y-on-y Februari 2026, di antaranya tarif listrik sebesar 2,27 persen, emas perhiasan sebesar 1,4 persen, daging ayam ras dan beras masing-masing 0,22 persen, ikan bandeng/ikan bolu sebesar 0,17 persen, ikan layang/ikan benggol serta ikan cakalang/ikan sisik masing-masing 0,16 persen, telur ayam ras sebesar 0,15 persen, udang basah sebesar 0,12 persen, serta sigaret kretek mesin (SKM)sebesar 0,1 persen.

Secara bulanan atau month to month (m-to-m), Sulawesi Selatan mengalami inflasi sebesar 1,04 persen. Komoditas yang dominan mendorong inflasi bulanan antara lain emas perhiasan sebesar 0,28 persen, cabai rawit sebesar 0,12 persen, udang basah sebesar 0,05 persen, ikan cakalang/ikan sisik sebesar 0,05 persen, serta ikan bandeng/ikan bolusebesar 0,05 persen.

Adapun inflasi year to date (y-to-d) Provinsi Sulawesi Selatan hingga Februari 2026 tercatat sebesar 1,51 persen.

Kelompok pengeluaran yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi y-on-y Februari 2026 adalah perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 2,36 persen, makanan, minuman, dan tembakau sebesar 2,02 persen, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 1,5 persen.

Sementara itu, kelompok pakaian dan alas kaki memberikan andil deflasi sebesar 0,04 persen, perlengkapan rumah tangga sebesar 0,02 persen, dan informasi, komunikasi, serta jasa keuangan sebesar 0,01 persen.(*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *