Menyalakan Asa dari Batok Kelapa: Gerak bersama Mustafa dan Merawat Setapak Cerita Disabilitas di Luwu

Gambar Ist.
Seorang penyandang Disabilitas dari sekolah alam Mirainesia memegang karya gelas dari bambu.

Luwu, Celebestimes.id – Uap panas khas pesisir Belopa menyengat pori-pori kulit saya perih itu. Udara Kabupaten Luwu sedang gerah-gerahnya. Bau pekat sabut kelapa basah yang menumpuk di pojok halaman menusuk hidung. Namun, tepat di sebuah teras semen tanpa alasnya, kesibukan yang sama sekali tidak surut.

Srek. Srek. Srek.

Suara pengadaan dari amplas kasar yang menyentuh permukaan tempurung kelapa terdengar konstan. Di sana, seorang pria berumur 59 tahun sedang duduk bersila. Tenang sekali. Namanya Pak Mustafa. Di balik keterbatasan fisiknya sebagai penyandang disabilitas fisik eks-amputasi—lengan tangannya tidak lagi utuh—jemari yang tersisa pada laki-laki tua itu luar biasa lincah saat memegang sebilah pisau raut kecil.

Bagi kebanyakan orang, sabut kelapa berserat, batok kering, atau potongan bambu yang melintang di pinggir jalan hanyalah sampah. Namun, ceritanya langsung berbalik arah ketika benda-benda itu jatuh ke tangan Pak Mustafa. Lewat ketelatenannya, limbah organik tersebut disulap menjadi peralatan rumah tangga yang bernilai estetika tinggi. Satu set mangkok berglisir alami, piring kayu bertekstur halus, gelas batok eksotis, sendok, sumpit, tempat tisu, tatakan gelas, hingga pajangan dinding dan pot tanaman pajangan lahir dari teras ini.

“Iye aku bilang tadi, tangan kami memang begini, Nak, tidak utuh,” ujar Pak Mustafa. Ia menjeda kalimatnya, lalu tersenyum kecil sambil menyeka bulir keringat di dahi dengan lengan baju yang mulai basah. “Tapi, kalau alam kita sudah kasih ki (kita) bahan berlimpah begini, masa kita mau berpangku tangan saja?”

Pak Mustafa adalah satu dari sekian banyak potret nyata dari sebuah gerakan kemandirian di tanah Luwu. Sejak tahun 2020, ia memilih mengikatkan takdirnya di Sekolah Alam Mirainesia Lontara, sebuah ruang inklusif yang diinisiasi oleh pemuda lokal bernama Ahmadi. Di sini episentrum berkumpulnya para penyandang disabilitas untuk mendobrak dogma sepi yang melekat pada mereka.

Setiap orang di sekolah ini membawa potongan cerita masa lalu yang sama: diskriminasi. Namun, di bawah naungan Mirainesia, mereka bersepakat untuk bergerak bersama demi membangun cerita baru yang jauh lebih baik melalui jalur kemandirian ekonomi. Dan jika berbicara tentang urusan menyulap batok kelapa menjadi produk premium, seluruh anggota di Mirainesia akan menunjuk satu nama dengan kompak: Pak Mustafa pakarnya.

Berkolaborasi demi Kemandirian

Saat duduk melantai bersama Ahmadi, sang pendiri sekolah, saya menangkap sebuah ketegasan yang jernih. Baginya, Sekolah Alam Mirainesia Lontara bukanlah sebuah lembaga karitatif yang menceritakan kesedihan demi memohon belas kasihan.

“Kami di sini tidak butuh dikasihani hanya dengan diberi bantuan sembako lalu selesai. Kami ingin dihargai karena karya,” ucap Ahmadi. Suaranya terdengar bergetar namun mantap.

Di akhir filosofi bergerak bersama itu membumi secara nyata. Sekolah alam ini mencakup sekitar 25 penyandang disabilitas yang aktif berproses. Mereka tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan berbagi tugas secara terstruktur. Ketika Pak Mustafa yang memiliki keahlian tinggi fokus pada pemotongan dan pembentukan produk utama—hebatnya, ia mampu mengetahui ketebalan batok hanya melalui ketukan ujung jari—rekan penyandang disabilitas lainnya yang tunarungu atau tunawicara langsung menyambut peran berikutnya. Ada yang kebagian tugas menyisir serat sabut, melakukan pengamplasan halus, hingga membantu tahap akhir pengemasan ( pengemasan ).

Gerakan kolektif inilah yang perlahan-lahan membangun cerita baru bagi masa depan mereka. Saat pesanan sedang berada di masa jayanya, kolaborasi ini mampu menetaskan hingga 45 unit kerajinan per bulan. Dari sebutir batok kelapa, omzet sekitar Rp2 juta sampai Rp5 juta per bulan dapat mereka kantongi untuk kemudian dibagi secara adil guna menopang kebutuhan dapur masing-masing anggota. Mereka berhasil mengubah narasi hidup dari kelompok rentan menjadi pelaku ekonomi kreatif yang mandiri.

JNE dan Cerita Paket yang Tiba dengan Selamat

Melahirkan produk berkualitas di pelosok Luwu sebenarnya baru separuh jalan dari mata rantai usaha. Tantangan berikutnya jauh lebih menakjubkan: bagaimana cara mengirim mangkok batok, gelas bertangkai, atau sumpit bambu yang ringkih ini ke tangan pemesan di kota besar tanpa ada yang mengulang sedikit pun? Salah sedikit saja dalam urusan distribusi, reputasi yang dirajut bertahun-tahun bisa dicapai dalam semalam.

Beruntung, dalam misi membangun cerita sukses hingga merambah ke luar daerah—mulai dari Makassar, Kendari, Palu, hingga persimpangan ke Jakarta dan Surabaya—tim Mirainesia tidak berjalan sendirian. Mereka menggandeng JNE Express sebagai urat nadi logistik utama.

“Ya, kalau khawatir memang iya. Ini barang kan barang limbah jadi rawan patah, apalagi kalua menumpuk sembarangan,” kenang Pak Mustafa, mengingat masa-masa awal pengiriman. “Dan setelah kita rutin mengirimkan barang melalui JNE, setidaknya tidak khawatir lagi. Alhamdulillah sampai hari ini, belum ada satu pun pembeli yang mengeluh atau melakukan retur karena barangnya rusak di jalan.” Tuturnya.

Rasa aman ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan buah dari standardisasi pelayanan yang ketat di lapangan. Rahma Eka, salah seorang petugas perempuan JNE wilayah Belopa yang biasa melayani penjemputan paket ke Mirainesia, menjelaskan prosedur penanganan tersebut kepada saya secara rinci.

“Kami di JNE tahu ji kalua paket-paket dari Miraineriarawan patah, ini karya seni bagus sekali memang. Kami juga selalu imbau ke setiap tim, baik di lapangan atau di gudang agar selalu memberikan perlakuan khusus. Kami juga menempelkan stikerfragile ( barang pecah belah) dan ditaro di posisi paling atas,” ungkap Rahma Eka penuh semangat.

Dimulailah konsistensi JNE, selalu menjadi peran yang kerap bertindak sebagai jembatan kemanusiaan yang menyambungkan pengukuran kerja keras di pelosok Luwu dengan para pencinta seni di kota-kota besar Indonesia.

Sunyinya Amplas dan Harapan yang Tersisa

Namun, kenyataan tidak selalu menyajikan cerita manis. Roda kehidupan berputar, dan kini narasi positif tentang kemandirian Pak Mustafa harus membentur dinding tebal kelesuan ekonomi. Saat saya melongok ke dalam ruang lokakarya ( workshop ), tumpukan bahan baku tampak agak berdebu.

Mesin amplas itu kini menghasilkan. Berdebu. Teronggok begitu saja di sudut ruangan.

“Sekarang… aih sudah jarang yang pesanannya,” bisik Pak Mustafa. Suaranya yang semula meledak-ledak penuh semangat, tiba-tiba berdegup kencang dan terdengar berat.

Sejak pertengahan tahun lalu, jumlah pesanan memang menurun tajam hingga 80 persen. Kesibukan para penyandang disabilitas yang biasanya riuh memilah sabut kelapa kini digantikan oleh kesunyian yang mencekam. Dampaknya sangat sistemik. Akibat pesanan yang sepi, sebagian besar dari 25 anggota terpaksa dinonaktifkan sementara waktu. Cerita kemandirian yang sudah dibangun dengan darah-darah ini terancam mandek di tengah jalan. Keluh kesah dan rasa cemas akan masa depan sekolah alam ini mulai membayangi pikiran mereka.

Ahmadi sendiri mengaku sudah memutar otak dan mengorbankan tabungan pribadinya agar sekolah alam ini tetap bertahan, tetapi kemampuannya tentu ada batasnya. “Kami memiliki semangat, memiliki keterampilan, dan memiliki mitra logistik sekelas JNE yang selalu siap sedia. Namun, kami membutuhkan pasar yang berkelanjutan,” keluh Ahmadi.

Ia berharap ada mata dari pemerintah daerah maupun provinsi yang siap menengok kondisi di Belopa. “Kami tidak membutuhkan bantuan uang tunai secara cuma-cuma. Kami membutuhkan dukungan nyata. Misalnya, dibantu pengadaan alat produksi yang lebih modern, diberi pelatihan pemasaran digital yang tepat, atau minimal dibuat kebijakan agar instansi pemerintah atau hotel lokal wajib menggunakan suvenir dari karya teman-teman penyandang disabilitas ini,” tambahnya lagi.

Catatan Jurnalis – Merawat Gerak, Menjaga Cerita

Menyaksikan langsung keseharian di Sekolah Alam Mirainesia membuat saya teringat cukup lama di atas motor saat hendak meninggalkan lokasi. Kisah dari Luwu ini memberikan pemahaman sekaligus definisi baru tentang apa itu “Bergerak Bersama, Membangun Cerita”.

Gerakan ini tidak dapat dianggap selesai hanya ketika kurir JNE mengetuk pintu rumah konsumen di kota besar. Ini adalah rantai panjang yang melibatkan semua pihak tanpa kecuali. Pak Mustafa sudah menuntaskan bagian cerita dengan menolak menyerah pada takdir fisik. JNE juga sudah mengambil peran terbaiknya dengan menjaga paket-paket ringkih itu tetap utuh di seluruh pulau. Saat ini, bola panas itu menggelinding ke arah kita—pemerintah dan masyarakat—untuk ikut bergerak agar cerita mereka tidak habis ditelantarkan.

Sebelum saya pamit dan menjabat tangan yang kasar, saya melihat Pak Mustafa kembali mengambil sebutir batok kelapa dari sudut teras. Tangannya kembali mengamplas pelan, meskipun hari itu tidak ada satupun pesanan yang masuk.

Katanya, dia hanya ingin bersiap-siap. Agar nanti ketika pintu pesanan ramai kembali diketuk, karya terbaiknya sudah siap dijemput oleh kurir JNE untuk melanjutkan cerita kehidupan yang sedang mereka bangun. Di bawah langit Luwu yang mulai menggelap, rangkaian harapan itu menolak untuk mati. Mereka masih terus bertahan, bergerak bersama, menjaga cerita mereka agar tetap menyala.(*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *