Oleh: Al Amin
Palopo, Celebestimes.id – Aroma gurih dari bakaran arang batok kelapa mengepul hangat, memancing selera siapa saja yang melintasi perempatan Jalan Pattimura, Kota Palopo. Di sinilah berdiri Rumah Makan Paraikatte, sebuah destinasi kuliner legendaris yang kelezatan ikan bakar dan ayam kampungnya sudah tersohor di wilayah Luwu Raya. Di balik piring-piring makanan yang disajikan hangat dari jam 10 pagi hingga 9.30 malam itu, ada cerita tentang ketahanan ekonomi daerah yang sedang dipertahankan mati-matian.
Bagi para penikmat setianya, seporsi ikan bakar segar dipadukan dengan siraman sambal juara seharga mulai dari Rp30 ribu adalah kemewahan yang merakyat. Namun, menjaga stabilitas harga di atas meja makan seperti ini bukan perkara mudah di tengah dinamika ketidakpastian ekonomi global.
“Bahan dapur di pasar sangat fluktuatif, tapi komitmen kami menjaga cita rasa dan harga tetap terjangkau untuk warga Palopo adalah yang utama,” ujar Opu, sang pemilik rumah makan legendaris tersebut di sela kesibukannya membakar ikan, Rabu (2/9/2026).
Upaya Opu menjaga stabilitas harga di tingkat hilir ini sejalan dengan potret makro moneter di Tana Luwu. Berdasarkan data terbaru Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, Kota Palopo menorehkan prestasi gemilang dengan mencatatkan tingkat inflasi tahunan terendah di seluruh wilayah Sulsel pada Juli 2026, yakni hanya sebesar 1,48% secara tahunan (year-on-year/yoy) dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,40. Angka ini berada jauh di bawah rata-rata inflasi provinsi yang mencapai 2,75% (yoy).
Meskipun demikian, kewaspadaan di piring saji tetap menjadi jangkar utama. Data BI menunjukkan bahwa secara akumulatif, komoditas pangan seperti ikan layang tetap memberi andil inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) yang signifikan di Sulsel sebesar 19,24%. Wilayah tetangga seperti Luwu Timur bahkan mencatatkan andil inflasi ikan layang yang meroket hingga 50,47% (ytd), sementara Kota Palopo sendiri berhasil meredamnya di angka 4,69% (ytd). Komoditas pendukung sambal juara Opu, seperti tomat, juga sempat bergejolak tinggi di angka 106,32% (ytd) di kota ini.
Dinamika fluktuasi komoditas ini merupakan cerminan nyata dari tantangan struktural ekonomi regional. Pada Triwulan II-2026, laju pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan tercatat melambat di angka 5,59% (yoy), turun dari performa Triwulan I-2026 yang sempat melesat kuat di angka 6,88%. Perlambatan ini menempatkan Sulsel berada di peringkat ke-12 secara nasional.
Di balik angka-angka tersebut, terjadi sebuah paradoks ekonomi yang menarik. Sektor hulu Lapangan Usaha (LU) Pertanian di tingkat provinsi mengalami kontraksi sebesar -0,26% akibat penurunan produksi padi nasional dan lokal yang terdampak risiko cuaca. Namun di sisi lain, pada Juli 2026, Sulsel justru berhasil mencatat deflasi bulanan sebesar 0,18% (month-to-month/mtm). Deflasi ini dipicu oleh melimpahnya pasokan hortikultura di daerah sentra, yang membuat harga tomat secara bulanan anjlok sebesar -29,17% (mtm) dan cabai rawit menyusut hingga -26,57% (mtm).
Kondisi surplus sayuran di tengah kontraksi produksi padi ini menegaskan bahwa fundamental ekonomi daerah sangat rentan terhadap tata niaga dan perubahan iklim. Menanggapi situasi ini, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, Rizki Ernadi Wimanda, menekankan pentingnya sinergi bauran kebijakan yang tidak sekadar mengandalkan intervensi jangka pendek.
“Kami terus memperkuat respons kebijakan bersama TPID melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS). Namun, tantangan ke depan makin nyata seiring transisi menuju El Nino Lemah-Moderat di paruh kedua tahun ini yang berpotensi mengganggu produktivitas pangan strategis. Pengawalan inflasi harus menyentuh akar masalah hulu dan hilir,” tegas Rizki Ernadi Wimanda dalam pemaparan perkembangan ekonomi terkini.
Di sektor hulu, BI Sulsel bergerak melalui klaster “UMKM Rewako Petani” secara end-to-end. Para petani dibekali bantuan alat mesin pertanian (alsintan) serta teknologi budidaya adaptif iklim untuk menjaga keberlanjutan pasokan. Beruntung bagi warung makan seperti milik Opu, produksi sektor perikanan tangkap diproyeksikan tetap kondusif seiring prediksi kondisi ENSO yang netral di wilayah perairan Sulsel.
Namun, intervensi pasar saja tidak cukup. Berkaca pada hasil Focus Group Discussion (FGD) bersama akademisi FEB se-Sulsel dan asosiasi usaha, Bank Indonesia merumuskan rekomendasi jangka panjang berupa akselerasi hilirisasi pangan. Guna mengatasi gejolak harga ikan layang dan pembusukan massal saat panen raya hortikultura, daerah direkomendasikan untuk segera membangun shared processing facility (fasilitas pengolahan bersama) serta memperkuat infrastruktur cold chain (rantai dingin) dan gudang logistik di sentra produksi prioritas. Langkah ini krusial agar pasokan pangan strategis dapat disimpan lama dan didistribusikan secara merata melalui skema Kerja sama Antar Daerah (KAD).
Kembali ke kebul aroma bakaran di RM Paraikatte, sepotong ikan bakar dengan cocolan sambal juara yang tersaji hari ini bukan lagi sekadar urusan pemenuh kebutuhan gizi harian. Di balik piring legendaris itu, ada rantai kebijakan moneter, kerja keras para petani dan nelayan binaan, serta komitmen bauran kebijakan yang sedang bekerja keras mempertahankan daya beli. Melalui pengawalan inflasi yang konsisten dan penguatan fundamental ekonomi yang inklusif, Sulawesi Selatan sedang membuktikan bahwa optimisme ekonomi dibangun lewat kepastian bahwa meja makan warga akan tetap aman dari badai harga.(*)





